Pilates Masih Jadi Raja: 43% Studio Fokus pada Pilates, 60% Ekspansi Tambahkan Kelas Pilates—Ini Data Terbaru Xplor Mariana Tek 2026
Uncategorized

Pilates Masih Jadi Raja: 43% Studio Fokus pada Pilates, 60% Ekspansi Tambahkan Kelas Pilates—Ini Data Terbaru Xplor Mariana Tek 2026

Lo buka laporan industri, scroll sebentar, dan angka-angka itu langsung nyerempet mata: 43% studio baru yang buka di 2025 menjadikan Pilates sebagai modalitas utama mereka . Dan yang lebih gila: dari studio yang udah ada dan melakukan ekspansi dalam setahun terakhir, 60% di antaranya memilih untuk menambahkan kelas Pilates ke dalam menu mereka .

Data ini bukan sekadar statistik kering dari Xplor Mariana Tek. Ini adalah sinyal. Sinyal bahwa Pilates bukan cuma “raja” yang bertahan di tengah perubahan tren, tapi telah menjadi episentrum—pusat gravitasi—yang menarik energi dari segala arah. Gym besar pengen nambahin Pilates. Studio kecil yang tadinya fokus瑜伽 sekarang pada nimbrung. Bahkan HIIT studio pun ikut-ikutan.

Pertanyaannya buat lo para pemilik dan operator studio: di tengah hiruk-pikuk ini, gimana caranya lo nggak cuma ikut-ikutan, tapi benar-benar jadi yang dituju?

Bukan Sekadar “Raja” yang Bertahan, Tapi “Episentrum” yang Menyerap Energi

Gue mau lo lihat data ini dengan cara beda. Selama ini kita terbiasa baca tren sebagai “siapa yang menang”. Tapi cerita Pilates di 2026 ini bukan tentang menang sendiri. Ini tentang gimana sebuah disiplin olahraga bisa jadi bahasa universal yang dipelajari semua orang.

Lihat angkanya sekali lagi: 43% studio baru memilih Pilates sebagai modalitas utama . Itu dominasi mutlak di antara semua format—yoga, barre, indoor cycling, HIIT. Tapi yang lebih menarik adalah 60% ekspansi studio yang udah ada memilih untuk menambahkan Pilates . Artinya, mereka yang tadinya punya basis pelanggan sendiri, sekarang merasa perlu untuk “belajar bahasa baru”—bahasa Pilates—supaya bisa tetap relevan.

Ini fenomena yang jarang terjadi. Biasanya, tren itu eksklusif: satu format naik, yang lain turun. Tapi Pilates sekarang kayak basa bumbu dapur—semua masakan jadi lebih enak kalau pake itu. Gym besar pake Pilates buat nambah value ke member. Studio yoga pake Pilates buat variasi. Bahkan klinik fisioterapi mulai integrasi Pilates buat rehabilitasi .

Tiga Wajah Episentrum: Dari Global sampai Lokal

Biar lo makin paham gimana “energi” ini bergerak, gue kasih tiga contoh nyata dari lapangan.

1. Fervid Pilates Studio: Menangkap Peluang di Pasar Urban

Di Jakarta, Fervid Pilates Studio jadi contoh nyata gimana Pilates berkembang jadi lebih dari sekadar olahraga. Mereka baru aja ngumumin ekspansi cabang, merespons meningkatnya permintaan layanan kebugaran berbasis wellness di ibu kota .

Yang menarik dari Fervid adalah pendekatan mereka yang nggak cuma jualan kelas, tapi wellness community. Target pasarnya spesifik: perempuan muda, pekerja, dan ibu rumah tangga . Tapi mereka nggak berhenti di situ. Mereka menawarkan program yang sangat tersegmentasi: private session, pilates untuk pemulihan cedera (post injury), ibu hamil, pemulihan pascamelahirkan, hingga penderita skoliosis .

Head Manager Fervid, Alma Natasya, bilang, “Di studio kami tidak hanya soal estetika. Kami menawarkan pelatih bersertifikasi pilates yang mempelajari anatomi tubuh secara mendalam” . Ini adalah contoh gimana diferensiasi berbasis keahlian jadi kunci di tengah pasar yang rame.

2. Studio yang Paham “The 5 Visit Rule”

Data Xplor Mariana Tek nemu satu hal yang menarik banget: yang mereka sebut “the money visit” . Ternyata, kunjungan kelima adalah titik balik. Retensi klien naik stabil antara kunjungan pertama sampai keempat, lalu bertahan di atas 90% begitu klien mencapai kunjungan kelima .

Bahkan, sekadar bisa membawa orang ke kunjungan keduanya aja udah hampir melipatgandakan peluang mereka untuk konversi menjadi member .

Artinya apa buat lo? Jangan cuma fokus gimana caranya dapetin orang baru. Fokus juga gimana caranya mereka balik lagi sampe lima kali. Itu adalah investasi dengan ROI tertinggi yang bisa lo lakuin. Setelah itu, mereka akan jadi “warga tetap” studio lo.

3. Studio yang Paham Kekuatan “Bring a Guest”

Data juga nunjukin bahwa 13% pelanggan baru datang sebagai tamu yang diajak oleh member yang sudah ada, lewat fitur Bring a Guest . Dan yang paling kuat: word of mouth masih jadi saluran akuisisi nomor satu buat 86% studio .

Ini pengingat bahwa komunitas itu nggak terbentuk sendiri. Dia harus dipupuk. Klien loyal yang ngerasa jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, mereka akan secara alami ngajak temennya. Mereka jadi marketing gratis yang paling efektif.

Tapi Hati-Hati, Ada Jebakan di Tengah Episentrum

Nah, ini yang penting. Di tengah hiruk-pikuk pertumbuhan, ada beberapa kesalahan fatal yang sering dilakukan pemilik studio. Catat baik-baik.

1. Lupa Kualitas Instruktur di Tengah Kejar Ekspansi

Ini jebakan nomor satu. Data dari Merrithew nunjukin, klien makin pinter dan makin selektif. Mereka nggak cari instruktur asal bisa ngajarin gerakan. Mereka cari instruktur dengan pemahaman mendalam tentang anatomi, kemampuan programming yang matang, dan pemahaman tentang long-term health .

“Pilates semakin dihargai karena dukungannya terhadap kesehatan jangka panjang, dengan penekanan lebih besar pada keahlian profesional dan pendidikan berkelanjutan,” tulis Lynda Nwaizu dari Merrithew .

Kalau lo kejar ekspansi tapi lupa nguatin kualitas instruktur, lo cuma bangun istana di atas pasir. Cepat besar, cepat pula ambruk.

2. Nggak Bisa Baca Segmen Pasar yang Berbeda

Data dari laporan global nunjukkin, preferensi konsumen sekarang makin terfragmentasi. Sebagian mencari pengalaman boutique yang eksklusif dan high-touch. Sebagian lain cari akses fleksibel dengan model pay-as-you-go .

Lo harus mutusin: mau jadi apa? Studio yang ngejar volume dengan harga terjangkau, atau studio premium dengan harga tinggi tapi layanan eksklusif? Kalau lo berusaha jadi keduanya, lo bisa kehilangan keduanya. Pasar udah terlalu cerdas buat dikibulin.

3. Cuma Jadi Tempat Latihan, Bukan “Third Space”

Ini yang paling subtle. Gen Z, yang porsinya di kelas fitness naik 11% dalam tiga tahun terakhir, punya kebutuhan beda . Mereka nggak cari tempat buat olahraga doang. Mereka cari “third space” —tempat ketiga setelah rumah dan kantor—yang nyaman, welcoming, dan bisa jadi tempat mereka membangun koneksi sosial .

Laporan Merrithew juga nyebut hal serupa: “Pilates studios are becoming spaces of connection. Beyond classes, studios foster community through workshops, events, and shared experiences” .

Kalau studio lo cuma jadi tempat orang datang, latihan, pulang, lo bakal kalah sama studio yang bisa jadi rumah kedua buat mereka. Ini bukan cuma soal fasilitas, tapi soal rasa.

Tips Praktis Buat Lo yang Mau Jadi Episentrum, Bukan Sekadar Ikut-Ikutan

Oke, lo udah tau potensi dan jebakannya. Sekarang gimana caranya?

1. Bangun Fondasi Instruktur dari Sekarang

Jangan nunggu butuh baru cari. Investasi di pelatihan instruktur adalah investasi jangka panjang. Klien makin cerdas, mereka bisa bedain mana instruktur yang cuma hafal gerakan dan mana yang beneran paham anatomi .

Data dari laporan Research and Markets nunjukin, akreditasi dan pelatihan profesional sekarang jadi trust signal yang penting. Studio yang punya jalur pelatihan terstruktur dan sertifikasi diakui bakal lebih gampang dipercaya konsumen .

2. Desain Program Buat Segmen Spesifik

Fervid Pilates ngasih contoh bagus: mereka punya program spesifik buat ibu hamil, post-injury, bahkan skoliosis . Ini adalah strategi diferensiasi yang bikin mereka nggak cuma jadi satu dari sekian banyak studio.

Lo bisa mulai dengan ngelihat: siapa yang paling banyak dateng ke studio lo? Ibu rumah tangga? Pekerja kantoran dengan masalah punggung? Atlet amatir yang pengen ningkatin performa? Desain program khusus buat mereka. Jual solusi, bukan cuma gerakan.

3. Manfaatin Data, Jangan Cuma Intuisi

Data Xplor Mariana Tek kasih lo intelijen berharga: retensi naik drastis setelah kunjungan kelima . Artinya, lo harus punya sistem yang memastikan klien baru mencapai kunjungan kelima.

Gimana caranya?

  • Kasih pengingat otomatis lewat WhatsApp atau email.
  • Tawarkan paket intro yang mendorong mereka untuk balik (misalnya, “5 sesi dengan harga spesial”).
  • Libatkan instruktur buat personal follow-up ke klien baru.

Jangan cuma pasang target “dapet klien baru”. Pasang target juga “jumlah klien baru yang mencapai kunjungan kelima”.

4. Bangun Komunitas, Bukan Cuma Basis Member

Data nunjukkin, 86% studio masih mengandalkan word of mouth sebagai saluran akuisisi utama . Itu artinya, klien lo yang paling loyal adalah aset marketing terbesar.

Gimana caranya bikin mereka jadi promotor?

  • Rayakan mereka. Spotlight anggota di media sosial.
  • Kasih reward buat yang ngajak temen (bukan sekadar diskon, tapi merchandise eksklusif atau akses ke event khusus) .
  • Adakan member-only events. Bisa workshop spesial, gathering, atau sekadar ngopi bareng .

Ingat, “special event” dinobatkan sebagai aktivitas pembangun komunitas nomor satu di 2026 .

5. Perhatikan Teknologi, Tapi Jangan Kehilangan Jiwa

Teknologi makin canggih. Ada “smart reformers” yang bisa kasih feedback langsung, ada platform booking dan CRM yang makin pintar . Tapi inget, teknologi itu alat, bukan tujuan.

Data dari laporan global nunjukin, platform digital sekarang jadi “core determinant of competitive differentiation” . Tapi yang paling penting adalah gimana lo menggunakannya buat memperkuat koneksi manusia, bukan menggantikannya. Gunakan teknologi buat tracking progress, personalisasi layanan, dan memudahkan booking. Tapi pastikan interaksi langsung antara instruktur dan klien tetap jadi jantung bisnis lo.

Jadi, Lo Siap Jadi Episentrum?

Data Xplor Mariana Tek 2026 udah ngasih peta jalan yang jelas: Pilates masih jadi raja, dan semua orang—dari gym besar sampai studio kecil—lagi pada belajar “bahasa” ini .

Tapi jadi episentrum itu bukan cuma soal ngikutin tren. Bukan cuma soal nambahin kelas Pilates ke menu. Tapi soal menjadi pusat gravitasi yang menarik orang untuk datang, betah, dan balik lagi. Tentang membangun ruang di mana orang nggak cuma datang buat olahraga, tapi buat jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Data ini ngasih lo modal: paham soal “the 5 visit rule”, soal kekuatan komunitas, soal pentingnya instruktur berkualitas. Sekarang tinggal gimana lo mengeksekusinya.

Lo bisa pilih jadi studio yang ikut-ikutan, numbuh cepat tapi rapuh. Atau lo bisa bangun studio yang jadi episentrum—tempat di mana energi dari segala arah bertemu, dan dari situ lahir sesuatu yang baru.

Gue sih milih yang kedua. Lo gimana?